Study Dasar Intelijen

“INTELIJEN SEBAGAI ORGANISASI”

A Strategic Intelligence Study by JA Pinora

Dalam melaksanakan kegiatan yang bersifat pengumpulan bahan keterangan, maka diperlukan wujud kesatuan yang mampu mengelola segala sumber daya yang ada, sehingga manifestasinya berupa sebuah organisasi yang mampu mengelola setiap unsurnya, yaitu manusia, metode dan material serta anggaran. Dengan demikian dapat diwujudkan dengan membentuk organisasi yang mampu menyelenggarakan tugas – tugas intelijen secara profesional. Contoh: Pembentukan lembaga intelijen dalam organisasi POLRI (Kepolisian Negara Republik Indonesia) dan TNI (Tentara Nasional Republik Indonesia), dimana POLRI mempunyai Badan Intelijen Keamanan (BIK POLRI) yang mempunyai core kegiatan aspek keamanan, sedangkan TNI mempunyai Badan Intelijen Strategis (BAIS TNI) yang mempunyai core kegiatan aspek pertahanan (Begitu pula dengan lembaga intelijen di departemen lain sesuai dengan aspek masing – masing). Konstantanya adalah sebuah badan intelijen terpusat yang dimanifestasikan dalam wujud sebuah lembaga intelijen yang bernama Badan Intelijen Negara (BIN), dengan “Intelligence’s Brotherhood” yaitu Komunitas Intelijen / Intelligence Community.

INTELIJEN SEBAGAI KEGIATAN:

Agar dapat melaksanakan pengumpulan bahan keterangan yang dibutuhkan oleh sebuah organisasi intelijen dalam menghadapi perkembangan lingkungan strategis, maka diperlukan penyelenggaraan kegiatan yang bersifat terbuka atau tertutup, dengan tetap MERAHASIAKAN misi yang telah ditetapkan (Contoh: Gambarannya pada film – film James Bond 007). Oleh karena itu, setiap upaya, pekerjaan, kegiatan dan tindakan dalam tugas penyelidikan, pengamanan dan penggalangan, yang dilaksanakan harus mampu MEMENUHI KEBUTUHAN data / informasi yang valid, untuk kemudian dilakukan pengkajian lanjutan, melalui siklus intelijen yang telah disepakati. Sedangkan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dalam tugas penyelidikan, pengamanan dan penggalangan, maka disesuaikan dengan karakter ancaman serta hambatan, yang kemudian diantisipasi diantaranya dengan pelibatan aspek kemajuan teknologi dan kekuatan bersenjata.

INTELIJEN SEBAGAI PENGETAHUAN:

Untuk dapat menyelenggarakan tugas – tugas intelijen, diperlukan kecerdasan, keahlian, ketrampilan dan kemampuan yang dapat diperoleh dan diasah melalui metode pendidikan, kursus dan sekolah tertentu. Sehingga data / informasi yang dibutuhkan oleh lembaga inteljen dapat tercukupi dan valid untuk dilakukan analisa, dimana pengetahuan yang merupakan aspek kognitif bagi setiap agen intelijen menjadi mandatory dalam penyelenggaraan intelijen. Contoh: Kajian Intelijen Strategis Universitas Indonesia (Post Graduate / Pasca Sarjana / S2), yang dipersiapkan untuk mencetak ahli / pakar intelijen secara strategis (Bagi yang berminat mengikuti pendidikan ini di Universitas Indonesia, silahkan menghubungi Sekretariat KIS – UI: Mr. Faisal dan Mr. Wing; +6281510803248 / 081510803248 dan +628158025467 / 08158025467).

INTELIJEN SEBAGAI PRODUK:

Dalam melaksanakan pengumpulan data / informasi, dibutuhkan kecakapan dalam menilai apa saja data / informasi yang berkaitan / bertalian dengan kecenderungan yang ada, sehingga dapat digambarkan perolehan data / informasi yang cocok / sesuai. Selanjutnya dilakukan serangkaian upaya untuk mendapatkan informasi dan data yang nantinya akan terangkum dalam Laporan Penugasan, kemudian bahan laporan penugasan tersebut akan dijadikan unsur analisa lebih lanjut yang dapat menghasilkan prediksi kondisi dan situasi yang akan dihadapi / akan terjadi. Sebagaimana perkembangan kondisi dan situasi di lapangan saat dilakukannya pengumpulan bahan keterangan, produk intelijen yang dihasilkan dapat saja berupa lisan maupun text singkat kepada user, guna mempercepat proses kajian yang sedang dilakukan oleh tim analisa. Sehingga dinamika peristiwa yang sedang / akan terjadi, dapat selalu diikuti serta diantisipasi dengan produk intelijen yang akurat, tajam dan terpercaya.

COUNTER INTELLIGENCE:

Counter Intelligence adalah segala usaha, pekerjaan, kegiatan dan tindakan yang secara integratif menggunakan segala bentuk sumber daya yang ada untuk menghalau dan menggagalkan upaya – upaya lawan dalam mendapatkan bahan keterangan (Data / informasi) melalui cara – cara khusus dan bersifat rahasia / tertutup. Dimana tindakan, data dan informasi yang diasumsikan akan diperoleh / dilakukan oleh lawan, dapat digunakan dalam meningkatkan kemampuan lawan dan atau dapat digunakan oleh lawan untuk menghancurkan kemampuan intelijen kita (Baik secara organisasi, kegiatan, pengetahuan dan produk). Counter Intelligence, tugas ini juga diemban oleh setiap agen intelijen. Adapun manfaat yang dapat diperoleh ketika mempelajari pengetahuan tentang Counter Intelligence adalah bahwa identifikasi tindakan lawan dapat dilaksanakan dengan lebih mudah, serta mampu memprediksi aksi lawan, sehingga dapat dilakukan penyusunan rencana aksi untuk mengcounternya melalui cara – cara pengamanan sebagai bentuk langkah – langkah antisipatif.

INFORMASI ADALAH SALAH SATU PILAR UTAMA ANCAMAN:

7 (Tujuh) pilar utama ancaman dalam MIDLIFE yaitu Militer, Intelijen, Diplomasi, Law / hukum, Informasi, Finansial dan Ekonomi. Saat ini yang paling rentan adalah pilar ancaman informasi, dimana saat ini lawan menggunakan informasi sebagai salah tool untuk memenangkan pertempuran asimetris dengan digunakannya perangkat – perangkat teknologi kekinian yang menyerbu pasar, adapun sasarannya adalah pangsa pasar di sebuah negara dengan menggunakan kecenderungan teknologi yang berada di pasaran dan kecenderungan untuk mencoba hal – hal baru yang sampai – sampai mengabaikan keamanan informasi bagi dirinya sendiri.

Bahwa perkembangan teknologi aspek informasi kini berkembang menjadi dilema berkelanjutan yang melanda setiap generasi, ketika perkembangan informasi di suatu daerah menjadi cepat tersebar ke belahan dunia lainnya, dan keterkaitan akan kebutuhan mendapatkan informasi secara instan. Pola kecenderungan ini dimanfaatkan oleh lawan dengan menyediakan kebutuhan gadget dan infrastruktur informasi yang dibutuhkan oleh pasar itu sendiri.

Ketergantungan akan kebutuhan informasi yang dipenuhi melalui penyediaan gadget yang berteknologi tinggi, benar – benar belum dapat dikaji aspek keamanannya, hal ini tentu saja menjadi isu yang tidak sedap dalam perkembangan ancaman aspek informasi dan bisnis, sebab dengan banyaknya gadget yang beredar maka akan mempersulit pengawasan kemampuan gadget itu sendiri dalam mengirimkan informasi.

Pada masyarakat sebuah negara yang berkembang, keinginan membeli gadget terbaru sering kali tidak memperhatikan aspek keamanan informasi, padahal dalam kenyataannya, pengiriman username dan password ke sebuah server yang berada di negara lain, akan digunakan sebagai kampanye penggalian informasi aspek komunikasi bagi kepentingan negara tertentu. Terlebih lagi bahwa dalam pemilihan sasaran, secara relatifitas lawan selalu tidak mempunyai target (Randomly / secara acak) bahwa username dan password personal tertentu dapat dikoleksi dan dimanfaatkan untuk mengetahui konten sebuah surel (Surat Elektronik / email), yang kemudian secara massive dikoleksi dalam sebuah server di negara tertentu, atau bahkan nantinya akan memanfaatkan isi surel dalam kepentingan intelijen secara strategis, sampai waktu yang tepat.

Banyaknya ancaman dalam aspek informasi ini ditumpangi dengan berbagai kepentingan, mulai dari kepentingan bisnis sampai dengan kepentingan keamanan nasional. Sehingga persaingan bisnis dalam bidang komunikasi sering dimanfaatkan dengan campur tangan negara dalam pengamanan warga negara itu sendiri, contoh hal ini adalah negara India yang dengan tegas mengharapkan pembangunan server RIM Blackberry dibangun di India sebagai respon atas peristiwa Mumbay (Penyerangan teroris ke dalam hotel pada bulan November 2008). Namun bagi beberapa kalangan, kepentingan pembangunan server RIM Blackberry di India juga membawa ancaman bagi kepentingan nasional negara – negara tetangganya sendiri. Oleh sebab itu, tantangan dalam menghadapi ancaman dari pilar informasi di Indonesia memerlukan tindakan khusus yang harus dikerjakan oleh negara (State Action) dan oleh warga negaranya itu sendiri, sehingga dalam pendistribusian informasi yang bersifat rahasia dan tertutup, dapat dikonstruksikan melalui distribusi informasi yang menggunakan infrastruktur dalam negeri, dengan kata lain bahwa pembangunan BBM server dan encryption server RIM Blackberry (Termasuk juga real time key encription RIM Blackberry) haruslah berada di Indonesia itu sendiri dan digunakan serta diawasi oleh pemerintah negara Indonesia itu sendiri, serta tidak terkoneksi (Secara ketergantungan) dengan server di negara lain (Diatur berdasarkan Geo IP Address). Hal ini untuk menjaga keamanan informasi yang rentan diokupasi oleh server / pihak negara – negara adidaya (Contoh: Saat ini lokasi server secara global justru berada di negara adidaya).

“Dengan demikian pengamanan aspek informasi dalam bidang elektronik seharusnya menjadi prioritas bagi setiap pemimpin departemen dan lembaga yang berada di dalam negara Indonesia itu sendiri, dimana kemandirian distribusi informasi secara elektronik dapat terwujud dengan resiko keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s