Study Kasus Pearl Harbour 1941

“UNDERSTANDING PEARL HARBOUR 1941”

A Strategic Intelligence Study by JA Pinora

Kemenangan Jepang atas pangkalan Amerika Serikat di Pearl Harbour Hawai merupakan hasil akhir dari pemikiran ulung ahli – ahli militer Jepang yang dengan segala jerih payah pemikirannya telah berhasil menghancurkan kekuatan angkatan laut Amerika Serikat di lautan pasifik, yang dengan hasil itu telah mengakibatkan lumpuhnya kekuatan tempur sebesar 85 (Delapan puluh lima) persen, oleh karenanya Jepang mampu menaklukkan negara – negara jajahan eropa di Asia sampai dengan di Indonesia.

Pemikiran bidang militer dan spionase oleh Jepang terhadap kekuatan angkatan laut Amerika Serikat, merupakan upaya berkelanjutan yang terus – menerus dalam memantau dan mengawasi jalannya dinamika pergerakan kapal – kapal perang yang bersandar di pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Hawai, ditambah lagi bahwa kelengahan masyarakat di Hawai yang tidak menduga akan aksi – aksi spionase warga keturunan Jepang yang bermukim di Hawai, yang secara sengaja atau tidak sengaja telah membantu distribusi informasi intelijen yang akurat tentang keadaaan cuaca, medan dan musuh (Angkatan laut Amerika Serikat). Ditambah lagi urusan persandian informasi dalam kawat diplomat Jepang di Washington yang tidak mampu dipecahkan oleh lembaga intelijen Amerika Serikat menjelang penyerangan Pearl Harbour.

Keunggulan dalam gerakan penetrasi diam – diam atas wilayah laut di sekitar Hawai oleh angkatan laut Jepang juga menjadi faktor penting dalam laju gerak kapal penyerang dan pengangkut pesawat tempur yang telah dipersiapkan oleh angkatan laut Jepang. Pergerakan angkatan laut jepang yang ditopang oleh kekuatan udara dan kekuatan kejut ini mampu dengan baik menjadi pendorong semangat gempur pilot – pilot pesawat tempur angkatan laut Jepang. Ketika itu, kemampuan radar yang dimiliki oleh angkatan darat dan angkatan laut Amerika Serikat juga masih belum mampu menggambarkan dan membedakan pergerakan pesawat tempur kawan atau lawan, sehingga masing – masing operator radar yang mendeteksi pergerakan tersebut mengira itu adalah pesawat kawan, dengan demikian elemen kejut yang dihadirkan oleh pesawat tempur milik angkatan laut Jepang menjadi sangat berharga.

Ketrampilan pilot tempur angkatan laut Jepang yang mampu melakukan penetrasi dan akhirnya menghancurkan kapal – kapal perang angkatan laut Amerika Serikat, merupakan hasil asahan pengalaman pertempuran antara Jepang dengan negara – negara jajahan eropa di sekitar Asia sebelumnya, dimana pilot tersebut mampu menampilkan performance tempur yang sangat luar biasa jika dilihat dari aspek kecepatan waktu dan hasil kerusakan yang ditimbulkan ketika memilih dan menetapkan sasaran. Ditunjang fakta lagi bahwa ketidaksiapan angkatan laut Amerika Serikat dalam menghadapi serangan udara dadakan yang sedang terjadi dihadapan mereka menjadi pemicu bertambahnya korban jiwa dan kerusakan material yang terjadi. Apalagi ditambah dengan adanya kemampuan daya gempur persenjataan yang dibawa oleh pesawat tempur angkatan laut Jepang yang telah sengaja dimodifikasi dengan kemampuan untuk menyesuaikan dengan medan yang dihadapi yaitu jarak yang pendek dalam meluncurkan torpedo ke arah sasaran dan jumlah sasaran yang banyak dan berdekatan dengan sasaran utama yang akan dihancurkan.

Dengan adanya serangan kejut tersebut, ternyata telah mampu melumpuhkan kapal – kapal perang angkatan laut Amerika Serikat, namun ternyata penyerangan udara oleh Jepang tersebut tidak ditindak lanjuti dengan penyerangan kapal – kapal perang Jepang terhadap pangkalan utama, yang diperkirakan apabila ini dilakukan maka akan menambah kerusakan pangkalan Amerika tersebut pada titik nadir yang tidak memungkinkan untuk dibangunnya kembali dalam waktu singkat.

Kemunduran yang diterima angkatan laut Amerika Serikat di pasifik menjadi momok menakutkan dalam pemerintahan Roosevelt di Washington, hal ini karena titik keberadaan armada angkatan laut Jepang justru berada di ambang pintu wilayah Pantai Barat Amerika Serikat, dan kesiapan tempur angkatan laut Amerika Serikat yang justru berada di Hawai justru sedang lumpuh ditambah lagi lembaga – lembaga intelijen milik Amerika Serikat sebelum penyerangan Pearl Harbour tidak menampilkan gambaran pendeteksian dini yang mampu menjadi isyarat rencana penyerangan Jepang, sehingga bukan tidak mungkin apabila penyerangan lanjutan dilakukan oleh angkatan laut kerajaan Jepang terhadap pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour, maka akan mampu diteruskan ke wilayah Pantai Barat Amerika Serikat.

Lembaga – lembaga intelijen Amerika Serikat yang ketika itu bekerja dalam memahami perilaku Jepang sebelum penyerangan Pearl harbour, sama sekali tidak mempunyai sistem koordinasi yang baik antar sesamanya sendiri, dengan kondisi ini, hasil kerja lembaga – lembaga intelijen itu berserakan dan tidak terkoordinasi dengan baik, apalagi dengan ketidak-acuhan FBI (Federal Bureau Of Investigation) dalam masalah – masalah pertahanan, yang justru saat itu terungkap informasinya lewat insiden agen spionase ganda “Popov”.

Munculnya rasa ego kesatuan yang sempit (Ego sektoral) antar lembaga – lembaga intelijen ini makin mengundang malapetaka, ketika hilangnya koordinasi dalam sharing informasi antar lembaga intelijen; FBI, angkatan laut dengan lembaga intelijen angkatan darat, yang ketika itu justru masing – masing bekerja untuk kepentingannya sendiri, kondisi dan situasi ini terbangun dari sebuah fenomena “Need To Know” yang selama ini terjadi diantara ketiga lembaga intelijen tersebut (FBI, Army, dan Navy), sehingga sharing informasi tidak berjalan. Saat itu, informasi yang berserakan antara ketiga lembaga intelijen tersebut justru tidak terkumpulkan dengan ketiadaan lembaga dan sistem yang mengatur sharing informasi antar lembaga intelijen.

“Dengan demikian, gambaran yang dapat diperoleh dari analisa yang disajikan tersebut, bagi komunitas intelijen di Indonesia seharusnya semakin menguatkan pentingnya sharing informasi antar lembaga intelijen dalam menangani masalah keamanan dan pertahanan secara bersama – sama, simultan dan sinergitas kemitraan yang harus terbangun melalui metode dan sistem yang benar, sehingga sebuah negara dan bangsa dapat diselamatkan dari ancaman yang berada dalam ambang batas“.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s